JIANGSU OUYEEL SUPPLY CHAIN MANAGEMENT CO.,LTD

JIANGSU OUYEEL SUPPLY CHAIN MANAGEMENT CO.,LTD

Terkait Kesheng dan Delong, banyak jalur produksi peleburan nikel-besi di Indonesia yang ditutup.

2026 03/19

Pada tanggal 4 Maret 2026, menurut pemberitaan berbagai media asing, Jakarta News - Asosiasi Pekerja Pertambangan Nikel Indonesia (APNI) baru-baru ini mengungkapkan bahwa akibat pengurangan kuota rencana kerja dan anggaran pertambangan nikel tahunan (RKAB) tahun 2026 serta ketatnya persaingan antar smelter dalam negeri, tiga smelter nikel terpaksa menghentikan produksi karena kekurangan bahan baku. Sekretaris Jenderal APNI Medi Katrini Lenkay dalam pembahasan RKAB yang digelar di Jakarta mengatakan, kuota produksi pertambangan nikel Indonesia pada tahun 2026 dibatasi 260-270 juta ton, yang secara langsung berdampak pada penurunan konsumsi bijih nikel oleh smelter dalam negeri. Dia membenarkan, saat ini ada tiga smelter yang masuk dalam penghentian produksi, yakni PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Sulawesi Selatan, PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali Sulawesi Tengah, dan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di wilayah yang sama. “Kami telah mengonfirmasi bahwa tiga smelter telah mengalami penghentian produksi. Huadi telah menghentikan produksi sepenuhnya, Wanxiang hanya memiliki dua jalur produksi tersisa, dan Gunbuster telah menutup lima dari 20 jalur produksinya,” kata Medi. Di balik peristiwa penghentian produksi ini, terdapat langkah pembatasan produksi yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengatasi situasi kemerosotan harga nikel dan kelebihan pasokan nikel global. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM) sebelumnya mengumumkan target produksi pertambangan nikel pada tahun 2026 akan diturunkan dari 379 juta ton pada tahun 2025 menjadi 260 juta ton dengan tujuan untuk menstabilkan harga melalui pengendalian pasokan. Namun kebijakan tersebut juga memicu reaksi berantai sehingga menyebabkan beberapa smelter yang mengandalkan bijih nikel terpaksa mengurangi produksi atau menghentikan operasi karena kuota tidak mencukupi. Patut dicatat bahwa smelter yang terlibat dalam penangguhan produksi ini semuanya terkait erat dengan perusahaan Tiongkok. Diantaranya, perusahaan induk Gunbuster Nickel Industry (GNI) adalah Jiangsu Delong Nickel Industry asal Tiongkok. Menurut sumber informasi, penangguhan GNI tidak hanya dipengaruhi oleh penurunan harga nikel, tetapi juga perusahaan induknya di Tiongkok, Jiangsu Delong, yang mengalami kesulitan operasional karena gagal bayar utang, yang juga sangat berdampak pada operasinya. Pada awal tahun 2025, GNI telah menghentikan sebagian besar lini produksinya. Selain itu, Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) dikabarkan telah menghentikan operasinya sepenuhnya sejak Juli 2025 dan melakukan PHK besar-besaran. Sebagai raksasa baja tahan karat global, lini produksi baja tahan karat 青山 Holding Group sebelumnya dilaporkan telah mengalami penghentian produksi dan pemeliharaan sebagian karena lemahnya permintaan pasar dan tekanan biaya. Sekretaris Jenderal APNI Medi menyatakan bahwa harga nikel saat ini terus menurun, sementara biaya produksi meningkat, yang sangat menekan margin keuntungan smelter dan bahkan menyebabkan kerugian. Ia memperingatkan bahwa smelter yang tersisa tidak boleh melakukan ekspansi produksi secara membabi buta, karena pemerintah Indonesia telah memperkenalkan peraturan baru yang mendorong perusahaan untuk bertransformasi menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi seperti produk kelas baterai, daripada terus memproduksi nikel pig iron (NPI) dan produk setengah jadi lainnya. Pemerintah Indonesia menilai pembatasan produksi ini merupakan penyesuaian yang perlu. Anggota Komite Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hariyo Seto mengatakan jika RKAB tidak dibatasi maka akan semakin banyak smelter yang bangkrut akibat kelebihan pasokan di pasar. Ia menekankan bahwa tujuan pemerintah adalah menjaga perkembangan yang sehat bagi seluruh industri, bukan kepentingan satu perusahaan saja.